PENANGANAN AUTHISME

July 4th, 2008

 

PENANGANAN AUTHISME

Anda dan Keluarga, Jum’at, 4 Juni 2008

Berbicara tentang Authisme yang semakin banyak dijumpai pada  tahun 2000 an sampai saat ini mengajak kita untuk lebih care dengan penanganan terhadap penderitanya. Setidaknya kita lebih mengenal bagaimana gejala awalnya. Ini dikatakan dr.Lenny Gustaman SpKJ (SUB ANAK) dari RS.  Puri Mandiri Kedoya Jakarta-Barat.

Pada anak berusia  satu atau satu setengah tahun yang mulai belajar berbicara, ia akan menyebutkan apa yang dilihatnya dengan cara menunjukkan ke satu objek dan menyebutkan nama objek itu.

 

Cara-cara ini disebut sebagai Joint Attention ( bersama-sama memperhatikan ). Pada anak normal, dia akan melihat wajah ibu atau pengasuhnya serta meneruskan dengan kontak mata. Hal ini untuk menarik perhatian ibu atau pengasuhnya agar bersama-sama memperhatikan sesuatu yang menjadi perhatiannya. Ini merupakan bentuk  perkembangan  komunikasi timbal balik dengan interaksi emosional yang sehat.

 

Namun tidak demikian halnya dengan anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan autisme yang mengalami kegagalan perkembangan. Umumnya anak-anak autisme tidak melakukan fase seperti anak normal yaitu  membangun kontak komunikasi melalui kontak mata dan membangun emosional.

 

Kegagalan membangun kontak emosional inilah yang menyebabkan perkembangan bicara juga menjadi terganggu dan akhirnya akan menyebabkan gangguan perkembangan bersosialisasi.

Dalam penegakan diagnosa autisme, perkembangan kemampuan bicara dan bahasa menjadi salah satu butir yang penting. Namun bukan berarti anak yang tidak bisa bicara atau mengalami keterlambatan bicara adalah penyandang autisme.

 

Karena Pada anak-anak autisme selain ia mengalami gangguan komunikasi secara verbal, mereka  mengalami pula gangguan komunikasi nonverbal.

 

 Pada anak autisme yang mengalami kegagalan perkembangan membangun kontak emosi tadi, dengan sendirinya juga ia mengalami kegagalan membaca bahasa mimik, karena bahasa mimik pada dasarnya adalah komunikasi dengan cara membaca emosi orang lain.

 

Ketidakmampuan membaca emosi orang lain dalam bentuk ekspresi muka orang lain inilah yang kemudian menyebabkan anak-anak ini juga tidak mampu mengekspresikan wajahnya. Ia adalah
anak yang tidak berekspresi, tidak mampu menunjukkan kehangatan, rasa senang atau marah.

 

Selain ia tak mampu mengutarakan emosinya ia juga kadang mengalami kesalahan dalam mengekspresikan perasaannya, atau ekspresinya tidak pada tempatnya. Padahal komunikasi nonverbal ini merupakan bentuk komunikasi yang lebih banyak digunakan oleh kita sehari-hari, dalam membangun hubungan dengan orang lain.

 

Dengan kata lain, sebagian besar komunikasi adalah berbentuk komunikasi non verbal. Dengan sendirinya kegagalan komunikasi nonverbal ini akan pula menyebabkan ia mengalami gangguan bersosialisasi, atau membangun hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya. 


Terkait  pengobatan Authisme, dr.

Lenny mengatakan,  saat ini yang banyak digunakan bahkan seringkali juga atas anjuran dokter (yang bergerak dalam terapi alternatif), misalnya detoksifikasi untuk menghilangkan racun di otak, diet bebas gluten dan casein, probiotik, megadosis vitamin, hormon, dan sebagainya,

 

Karena hingga kini penyebab authisme belum bisa dipahami secara pasti maka para dokter juga belum bisa mentukan obatnya.

 

dr. Lenny mengatakan, autisme dapat diteraphi untuk memantau tumbuh kembangnya dan anak juga dimasukkan pada sekolah khusus agar mendapat penanganan yang tepat.   namun bukan menyembuhkan 100%.

Pengobatan model intervensi biologis memang dapat dilakukan namun menelan biaya yang  sangat mahal, terkadang  berbahaya bagi si anak sendiri.

Kalaupun dokter memberikan resep obat-obatan psikostimulan, hal itu bukan untuk menyembuhkan autisme, tetapi hanya sekedar untuk mengendalikan emosi dan perilakunya.

 

Yang terpenting pesannya adalah bagaimana kita
harus menanganinya dengan cara melihat faktor lemah dan faktor kuatnya dengan pendekatan psikologi dan pedagogi, yaitu arahkan perilakunya, tingkatkan kecerdasannya, latih kemandirian, ajarkan kerjasama, dan ajarkan bersosisalisasi.

 

HARGANAS KE XV

June 30th, 2008

HARGANAS KE XV

Posdaya Membangun Jakarta, Senin, 30 Juni 2008

Baru saja kita memperingati Hari Keluarga Nasional “HARGANAS” ke XV di Jambi  29 Juni yang lalu dimana Presiden SBY dalam sambutannya mengatakan peran KB  dapat memperkecil keluarga dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Dan  gotong royong yang merupakan cirri khas bangsa Indonesia jangan sampai luntur.

Presiden mengatakan,  penekanan yang perlu dilakukan bersama dengan saling bahu membahu sesuai budaya gotong royong, sebab membangun bangsa ini tidak semudah membalik telapak tangan.

Hali ini dinyatakan pula oleh drs. Mazwar Noerdin, mantan  Sestama BKKBN Pusat yang menjadi tamu kita dalam PMJ kali ini.

Program PKK dan posyandu merupakan salah satu program nasional yang harus dihidupkan kembali. Sebab dari program tersebut  yang paling diuntungkan adalah masyarakat.

Kenapa ditetapkan pada 29 Juni? Maswar mengatakan usai regresi tentara sehabis menghindari pertempuran besar di Jogjakarta yang dipimpin pak Harto, pada tanggal 29 Juni 1949 mereka kembali dan bersatu dengan keluarganya.

Demikian juga dengan berdirinya BKKBN, pada 29 Juni 1970 sehingga dua moment penting ini menyelaraskan penetapan Harganas.

Ditambahkan pula, memaknai hari keluarga nasional bukan hanya sekedar secara fisik yang bersatu namun juga secara rohaniah, mental dan spiritual. Terputusnya hubungan Famili semasa peperangan, harus dihidupkan dan diikat kembali secara emosional.

Yayasan Damandiri yang memfokuskan kegiatannya kepada keluarga seperti  Program KB, Ketahanan keluarga dan upaya membuat keluarga tangguh agar bisa mengantisipasi dari  ancaman-ancaman  luar  seperti  narkoba, modernisasi dan pengaruh globalisasi.

Kesejahteraan keluarga berupa peningkatan taraf ekonomi merupakan unsur terpenting untuk menangkal tidak harmonisnya keluarga, traffic king, dan beragam perbuatan negative, karena kemiskinan sangat dekat dengan kekufuran.

Memaknai Hari Keluarga Nasional, semoga bukan sekedar seremonial belaka yang diperingati setahun sekali namun juga sebagai upaya , mengacu pada keinginan untuk menjadikan keluarga sebagai basis pertahanan dari beragam gangguan dan masalah social.

TRIKORA MEMBANGUN BANGSA

June 30th, 2008

TRIKORA MEMBANGUN BANGSA

Mitra Gemari, Senin, 30 Juni 2008

Merupakan yayasan pertama yang didirikan oleh Pak Harto. Yayasan ini didirikan, “karena BELIAU merasa terpanggil, menyantuni anak-anak dan janda para prajurit yang gugur dalam perjuangan pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda.

Pak  Harto mencatat setelah perebutan Irian Barat ada 121 janda dan 325 anak yang menjadi yatim-piatu. Untuk mePanyantuni dan membiayai pendidikan anak-anak tersebut diperlukan dana. “Untuk itulah pada tahun 1963 saya bentuk Yayasan Trikora,” ujar Pak Harto.“Korban-korban itu, prajurit-prajurit yang gugur, meninggal di medan tugas. Walaupun gugurnya itu dalam tugas tapi perintahnya dari saya, saya merasa bertanggung jawab. Saya menempatkan diri sebagai pengganti ayah dan anak anak prajurit yang gugur itu,” katanya.Yayasan ini didirikan, “karena saya terpanggil.” Sebab siapa yang akan mengurus anak-anaknya itu. Ayahnya sudah gugur, lantas pada waktu itu pensiunnya hanya berapa. Lantas pada waktu itu ada yang masih dalam kandungan. Jadi ditinggal ayahnya itu masih dalam kandungan. Berarti harus mulai dipikirkan dari lahir sampai dewasa. Berarti kira-kira sekolahnya dari mulai taman kanak-kanak, SD, SMP, sampai SMA dan perguruan tinggi. Kalau paling cerdas pendidikannya cepat. Tapi kalau biasa 30 tahun. Jadi 30 tahun baru selesai mengurusi anak-anak yatim piatu itu.

Karena Belanda ngotot tidak mau menyerahkan Irian Barat walaupun hal itu sudah diatur dalam Konferensi Meja Bundar di Den Hag tahun 1949, Indonesia harus berjuang mendapatkannya. Cara diplomasi pun ditempuh sejak tahun 1950 sampai dengan 1961 tanpa ada titik-titik terang penyelesaiannya.“Belanda menggunakan alasan mengapa Irian Barat tidak masuk ke dalam kedaulatan Republik Indonesia, karena Republik Indonesia telah melanggar kepentingan dalam merubah negara serikat menjadi negara kesatuan Republik Indonesia. Dan sebenarnya yang menginginkan negara kesatuan itu adalah negara-negara bagian yang tergabung dalam Republik Indonesia Serikat. Ya akhirnya Indonesia tidak melanggar,” kata Pak Harto bersemangat menceritakan ketidaksenangan Belanda atas berubahnya status RI dari negara serikat menjadi negara kesatuan.“Ya konsekuensinya Belanda tidak mau menyerahkan Irian Barat kepada Republik Indonesia.

Bahkan sepuluh tahun kemudian, tahun 60-an, Belanda masih tetap tidak mau menyerahkan Irian. Hingga akhirnya muncul Tri Komando Rakyat (Trikora).”Dikomandokannya Trikora oleh Bung Karno di Yogyakarta 19 Desember 1961, menandai digunakannya cara militer untuk merebut Irian Barat. Maka dibentuklah Komando Mandala untuk merebut Irian Barat. “Saya mendapat. kehormatan untuk ditugaskan sebagai panglimanya,” kenang Pak Harto dengan senyum lebar mengenang masa lalu.

Penjajagan secara militer pun dilakukan dalam persiapan merebut Irian Barat. Kapal-kapal torpedo cepat pun dikirim ke perairan Irian Barat. Puncaknya pada tanggal 15 Januari 1962, flotila yang terdiri dari 3 MTB tersebut sempat terlibat dalam pertempuran laut yang tak seimbang. Korbannya RI Macan Tutul tenggelam, dan awaknya ditawan Belanda.

Pak Harto mulai memegang komando pada bulan Februari 1962 dan Bung Karno memberi target agar sebelum 17 Agustus 1962, Indonesia sudah harus masuk ke pangkuan Ibu Pertiwi.Mengenang perintah presiden Soekarno waktu itu, Pak Harto mengingat, “Padahal saya baru memangku tugas selama tujuh hari. Itu tugas berat yang harus saya lakukan, mengingat 17 Agustus tinggal 7 bulan lagi.’

Melihat keadaan medan dan kekuatan serta dislokasi pasukan Belanda, untuk merebut Irian Barat diperlukan operasi gabungan. “Berarti pula harus dibentuk kesatuan gabungan,” kenang Pak Harto. Padahal pasukan gabungan itu belum ada dan pangkalan tidak harus di Jakarta, tapi harus dekat Irian agar pesawat bisa lebih lama terbang di atas Irian. Sementara di awal operasi, karena intel dan perhubungan belum secanggih sekarang, kekuatan dan dislokasi pasukan musuh belum diketahui pasti. Untuk itu dilakukan operasi-operasi peninjauan.

Melihat kalau cuma mengandalkan operasi laut saja gagal, semua kekuatan darat, laut, dan udara harus melakukan operasi gabungan. Oleh Panglima Tertinggi, para Panglima diperintahkan menggerakkan pasukannya. “Termasuk saya,harus melakukan persiapan. Padahal menurut teori, harus membentuk pasukan gabungan terlebih dahulu baru melakukan operasi,” kenang Pak Harto sambil tertawa mengenang keadaan masa lalu itu.Operasi udara pun kemudian dilakukan. Operasi gabungan itu melakukan penerjunan udara di berbagai kota seperti di Manokwari, Sorong, Fak-fak, dan Merauke. Sementara pasukan yang didrop dari udara terus membesar jumlahnya, pasukan lain dengan kekuatan 30.000 pasukan didukung 110 kapal laut disiagakan di Teluk Peleng, Pulau Banggai, Sulawesi untuk melakukan penyerbuan besar-besaran.Sementara itu di jalur diplomatik pun sedang terjadi perundingan alot antara delegasi Indonesia dan Belanda dengan PBB sebagal penengah. Melihat infiltrasi pasukan ke aaratan Irian terus bertambah, dan pasukan yang disiagakan pun tinggal menunggu perintah serbu, Belanda pun akhirnya bersedia mengembalikan Irian Barat kepada PBB. Dengan melalui Pepera di bawah pengawasan PBB, akhirnya Irian Barat masuk ke dalam negara Kesatuan Republik Indonesia.

Walau tak sempat terjadi pertempuran besar, tetap saja ada korban. Itulah gabungan perjuangan antara politik diplomasi dengan militer. ‘Jadi kalau saja jadi mendarat, pada waktu itu korbannya tidak kurang dari 40 persen, menurut perhitungan saya. Kemudian lantas perlindungan udara kurang. Itu saya perhitungkan. Kenapa? Ya, mission tadi. tanggal 17 Agustus 1962 Irian harus sudah masuk ke Republik Indonesia. Alhamdullillah tidak terjadi. Pada saat itu sudah diputuskan oleh Dewan Keamanan, Belanda menyerahkan Irian Barat, maka operasi itu ditangguhkan.

 

PILIH JAMU ATA SUPLEMENT

June 23rd, 2008

PILIH JAMU ATA SUPLEMENT

Posdaya Membangun Jakarta, Senin, 23 Juni 2008

Senin, 23 Juni 2008 Wikimu.com menemani kita on air bersama mas Err dan dua narasumber yaitu Mbak Sri Manager Perusahaan Jamu, dan mbak  Shandy ED Seorang pakar kesehatan.

Seputar jamu dan suplemen menjadi perbincangan hangat hari ini.  Mbak Sri yang kebetulan adalah Product Manager dari salah satu produk dengan kandungan pace/mengkudu menjelaskan dengan panjang lebar tentang perlu atau tidaknya suplemen atau jamu bagi masyarakat, terutama di perkotaan.

Sementara mbak shandy asyik menjabarkan bedanya jamu dan suplemen. Dimana Jamu bisa berperan sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai gangguan penyakit dengan jangka waktu yang agak lama tidak instant, sedangkan supplement sebagai pengganti vitamin yang hilang dari tubuh atau ketika kita dalam masa penyembuhan dari sakit.

Hal ini menjadi perbincangan hangat karena belum lama ini  Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali menarik dari peredaran 54 jenis jamu berbagai merek, baik pelangsing tubuh maupun obat kuat.

Kandungan zat kimia berbahaya di dalam puluhan produk jamu itu dapat menimbulkan sakit kepala, gangguan penglihatan, ginjal, jantung, bahkan kematian

Dari 54 merek, 46 produk menggunakan nomor pendaftaran fiktif. Obat-obat tersebut banyak ditemukan di 15 kota besar, yaitu Yogyakarta, Banjarmasin, Medan, Mataram, Kendari, Lampung, Banda Aceh, Pontianak, Pekanbaru, Kupang, Makassar, Bengkulu, Padang, Bandung dan Jakarta.

Disinilah Mbak Sri menerangkan bagaimana memilih produk jamu  yang bisa dipertanggung jawabkan antara lain dengan melihat registrasi perusahaan jamu dan UKM yang bersangkutan dan  melihat tanggal kadaluwarsa.

BERKACA PADA BEIJING

May 7th, 2008

BERKACA PADA BEIJING

Dalam Haryono Show kali ini, banyak sekali ucapan ulang tahun yang masuk dari para pendengar DFM kepada Prof. Haryono Suyono, karena baru saja sehari sebelumnya acara peringatan ulang tahun ini meskipun tidak terlalu mewah namun cukup meriah digelar di Haryono Center Buncit Indah, Jakarta-Selatan.

Banyak tamu yang hadir, stake holder, mitra kerja bahkan mantan Gubernur DKI sekaligus Kandidat Presiden pada Pemilu 2009 Sutiyoso beserta isteri berkumpul pada acara ini.

Dalam topic bahasan siaran, Prof Haryono beserta DR. Rohadi Haryanto memaparkan pengalaman unik yang dibawa dari RRC, China. Prof Haryono baru saja pulang dari Konferensi Pengentasan Kemiskinan di green Olympics Beijing, bersama DR.Pudjo Rahardjo, sementara DR. Rohadi sempat mendampingi Prof Haryono pada tahun sebelumnya.

Selaku Ketua Umum DNIKS, Prof. Dr. Haryono Suyono, bersama Dr. Pudjo Rahardjo dan Mulyono Daniprawiro MBA, sempat diterima oleh Mr. Ji Lin, Executif Walikota Beijing.

Berlangsunglah pembicaraan terkait rencana tukar menukar tenaga ahli dan para sukarelawan di bidang pembangunan manusia, secara khusus, upaya pengentasan kemiskinan di kota dan pedesaan dengan melibatkan masyarakat itu sendiri.

Masyarakat harus berdaya dan berperan dalam pembangunan dinegaranya melalui usaha produktif.

Melihat keteraturan lalulintas di China, Kebersihan yang sangat terjaga, pendidikan ideal, dan pengendalian penduduk yang begitu bagus, membuat Prof Haryono kagum dan mengajak masyarakat kita mewujudkan hal yang sama, tak ada yang sulit kalau gerakan dan kedisiplinan ini datang dari masyarakat itu sendiri, didukung oleh infrastruktur dan pendanaan dari pemerintah.

China menjadi sangat teduh dengan pepohonan yang asri menjadi paru-paru kota. Bahkan Tembok China yang sangat terkenal itu bukan hanya sepenggal cerita tetapi dapat menghasilkan income dari kedatangan turis dan sekaligus menggalakkan penghijauan. 

Prof. Haryono pun tak ketinggalan,  menyempatkan diri menanam pohon di dekat tembok yang sangat terkenal itu. Disamping sempat pula bertukar pengalaman dengan atlit pemenang Olympiade dari China. yang Pestanya akan digelar awal Agustus mendatang.